Nol Deforestasi dalam Praktik: Pendekatan Stok Karbon Tinggi Penjelasan Singkat

Share & Comment
Hutan tropis tidak hanya menyimpan nilai karbon yang cukup tinggi, tetapi juga memiliki nilai keanekaragaman hayati yang penting, terutama bagi jutaan masyarakat adat dan lokal yang kehidupannya sangat bergantung pada hutan. Banyak perusahaan yang saat ini sedang mengalihfungsikan hutan tropis menjadi perkebunan untuk komoditas seperti kelapa sawit dan kertas mengalami tekanan dari konsumennya untuk membuktikan bahwa mereka tidak melakukan deforestasi dalam kegiatannya.
Memahami permasalahan deforestasi tidaklah mudah karena harus mempertimbangkan nilai karbon dan iklim, keanekaragaman hayati serta masyarakat adat dan lokal. Urgensi untuk menghentikan praktik deforestasi ini semakin meningkat, mengingat makin banyaknya hutan-hutan tropis kita yang sangat bernilai ini mengalami kerusakan.
Pendekatan stok karbon tinggi atau High Carbon Stock adalah metodologi yang berguna untuk mengidentifikasi tanah yang sesuai untuk pengembangan perkebunan maupun tujuan perlindungan hutan jangka panjang. Pada awalnya, metode ini dikembangkan oleh Greenpeace, The Forest Trust dan Golden Agri-Resources, namun kemudian, dalam proses perjalanannya pendekatan ini diatur dan disempurnakan oleh kelompok multi-pihak yang disebut dengan High Carbon Stock Approach Steering Group. Kelompok lembaga swadaya masyarakat seperti Greenpeace, World Wide Fund for Nature, Rainforest Action Network dan Forest Peoples Program, serta perusahaan sawit seperti Cargill, New Britain Palm Oil, Daabon dan Wilmar, termasuk perusahaan kertas dan bubur kertas Asia Pulp and Paper, serta The Forest Trust, seluruhnya berpartisipasi secara aktif dalam proses ini.
Pendekatan stok karbon tinggi ini dirancang untuk melindungi dan merestorasi wilayah hutan tropis yang layak di dalam lansekap yang mengalami konversi hutan untuk perkebunan dan pertanian, termasuk memastikan hak guna lahan dan penghidupan masyarakat tradisional tetap terjamin.

Metodologi Stok Karbon Tinggi (HCS)

Metodologi ini telah dikembangkan untuk membedakan kawasan hutan alam dari lahan terdegradasi (bekas hutan) yang saat ini memiliki sejumlah kecil pepohonan, semak, atau padang rumput. Hutan berstok karbon tinggi adalah hutan yang memiliki kandungan karbon tinggi, yang akan terlepas apabila dikonversi menjadi perkebunan, serta memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi.
Tahap pertama dalam pendekatan Stok Karbon Tinggi (HCS) adalah menggunakan data satelit berkualitas tinggi dari wilayah konsesi serta pengecekan plot di lapangan untuk menentukan kelas vegetasi guna mengidentifikasi wilayah potensial hutan berstok karbon tinggi. Dalam tahap ini, juga dilakukan identifikasi terhadap lahan terdegradasi yang bukan merupakan areal hutan berstok karbon tinggi yang dapat dikembangkan menjadi perkebunan untuk menyeimbangkan kebutuhan sosial dan ekonomi. Untuk tujuan tersebut, perusahaan harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat adat dan lokal terlebih dahulu, tanpa tekanan dan berdasarkan informasi yang memadai terkait penggunaan lahan mereka untuk keperluan pelestarian maupun pemanfaatan lahan untuk tujuan komersial.
Untuk wilayah kelas vegetasi rendah seperti semak belukar dan padang rumput dapat dipertimbangkan untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan. Ini berarti, wilayah hutan yang berpotensi untuk bertumbuh ulang dan hutan sekunder yang mengandung nilai karbon dan keanekaragaman hayati yang tinggi harus dipertimbangkan sebagai areal berstok karbon tinggi yang ditandai untuk dilestarikan.
Tahap selanjutnya adalah identifikasi bidangan hutan yang masih dapat dipertahankan atau dikembalikan ke fungsi ekologisnya sebagai hutan. Dalam tahap ini, proses diawali dengan memetakan lahan masyarakat secara partisipatif untuk mengidentifikasi penggunaan oleh masyarakat, misalnya kebun. Prinsip-prinsip ilmu konservasi diterapkan untuk menilai luasan bidang hutan, bentuk, serta keterhubungan antara wilayah hutan dan konsesi, termasuk yang dekat dengan wilayah konsesi, serta nilai keanekaragaman hayati dalam bidangan hutan yang lebih kecil. Areal hutan yang berstok tinggi kemudian diintegrasikan dengan areal bernilai konservasi tinggi (HCV), areal gambut, daerah sungai (aliran sungai) dan wilayah lindung lain untuk usulan rencana pelestarian di dalam wilayah konsesi. Tahap akhir dari pendekatan stok karbon tinggi ini adalah memperoleh persetujuan dan dukungan dari masyarakat adat dan lokal untuk upaya pelestarian, pengelolaan dan perlindungan hutan tersebut.

BERPOTENSI HCS
DAPAT DIALIHFUNGSIKAN
Hutan Kerapatan TinggiHutan dengan kerapatan tinggi atau hutan sekunder yang lebih ke arah hutan primer (High Density Forest)
Hutan Kerapatan SedangHutan rapat tapi lebih terganggu daripada hutan dengan kerapatan tinggi (Medium Density Forest)
Hutan Kerapatan RendahTerlihat sebagai hutan rapat tapi sangat terganggu dan terjadi penutupan kembali (Low Density Forest)
Hutan Muda Yang Sedang BertumbuhSebagian besar hutan muda yang sedang tumbuh, tapi dengan adanya beberapa patch dari hutan tua  dalam strata (Young Regenerating Forest)
Belukar MudaAreal yang baru dibuka, beberapa tanaman berkayu bertumbuh dan tutupannya seperti padang rumput (Scrub)
Lahan TerbukaLahan yang sudah dibuka, kebanyakan rumput atau tanaman kebun dan sedikit tanaman berkayu (Open Land)



Menerapkan Pendekatan Stok Karbon Tinggi

Pendekatan stok karbon tinggi saat ini menjadi cara yang praktis dan kuat untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan sawit yang telah berkomitmen untuk memutus deforestasi dalam rantai pasok mereka. Saat ini Cargill, Wilmar, Asian Agri, Musim Mas, Golden Agri Resources di Indonesia dan GVL di Liberia, serta perusahaan konsumen sawit seperti Unilever, Nestle, L'Oréal, Delhaize, Kellogg, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson telah menggunakan pendekatan stok karbon tinggi ini dalam menerapkan komitmen ambisius mereka.
Greenpeace menyerukan agar semua perusahaan yang berhubungan dengan industri sawit untuk berkomitmen untuk “Nol Deforestasi” dan menerapkan kebijakan konservasi hutan yang dapat melindungi hutan dan lahan gambut serta menghormati hak-hak masyarakat adat dan lokal. Perusahaan tersebut harus melakukan moratorium dengan segera terhadap pembukaan hutan-hutan yang berpotensi sebagai hutan berstok karbon tinggi dan seluruh lahan gambut, serta menuntut hal yang sama kepada pemasok pihak ketiga mereka.

Sumber : Greenpeace indonesia
Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

 
@2014 | Published By # | Tuts | Designed by # | Powered By restu agro jaya.