Sunday, 14 September 2014

Perangkap Hama Aroma

Share & Comment
Laporan Praktikum
Perangkap Hama dan Aplikasinya
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengendalian Hama Penyakit Terpadu




Oleh :
Muhammad  Kurnia M   1211706052
Nuri Purwanti                   1211706059
Restu Setiawanda             1211706064
Ria Rosdiana M.               1211706065
Ulfah Nurjanah                1211706077


AGROTEKNOLOGI V/B
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013
PRAKTIKUM III
Pembuatan Perangkap Hama Dan Aplikasi Dilapangan (Perangkap Aroma)
I.  Pendahuluan
Perangkap adalah tempat atau alat yang digunakan untuk menangkap hama yang diberi umpan. Pengendalian hama terpadu merupakan pengendalian dengan cara meminimalisir penggunaan pestisida kimia. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dikendalikan dengan pengendalian fisik dan mekanik. Salah satu pengendalian fisik dapat dilakukan dengan cara penggunaan lampu perangkap, sedangkan pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang perangkap yang diberi zat-zat kimia yang dapat menarik atau warna, aroma makanan atau bau tertentu.
Perangkap aroma, Misalnya aroma metil eugenol.  Metil Eugenol merupakan atraktan yang sering digunakan untuk mengendalikan lalat buah  Bactrocera sp. Metil Eugenol sangat dibutuhkan oleh lalat jantan untuk dikonsumsi. Zat ini bersifat volatile atau menguap dan melepaskan aroma wangi dengan radius mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu oleh angin jangkauan bisa mencapai 3 km. Atraktan sintetik sudah banyak beredar dipasaran tetapi harganya cukup  mahal, dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan belum tentu berhasil dalam pengaplikasiannya. Selain dari bahan kimia sintetik, metil eugenol juga dapat dibuat secara langsung dari beberapa tanaman seperti  tanaman cengkeh, kayu putih, daun wangi, dan selasih (Kardinan, 2003).
 Serangga tertentu juga lebih tertarik terhadap warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti kuning cerah, selain itu juga perangkap hama bisa menggunakan hormon penarik lawan jenisnya dalam satu species yang dikenal dengan feromon. Feromon yang digunakan dalam praktikum ini adalah feromon exi untuk hama spodoptera exigua hama yang menyerang tanaman bawang merah, bawang daun , kucai, jagung , cabai, dan kapri.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap adalah sebagai berikut : ukuran atau jenis serangga yang akan ditangkap kebiayasaan keluar: siang atau malam hari. Stadium perkembangan serangga, makanan kesukaannnya, warna kesukaannya, kekuatan atau kemampuan hama untuk berinteraksi terhadapa jerat dan cara terbang hama.
Tujuan
Dalam praktikum ini mahasiswa dilatih untuk membuat dan mengaplikasikan perangkap hama berupa perangkap aroma. Perangkap aroma ini adalah untuk mengetahui keefektifan atraktan (Metil eugenol) dalam menarik serangga khususnya lalat buah di lapangan. Selain itu mahasiswa diharuskan mengawasi atau mengontrol perangkap secara teratur. Dengan perangkap hama kita dapat melihat perkembangan populasi hama.
Manfaat
Praktikum ini bermaanfaat agar kita mengetahui bagaimana cara membuat dan mengaplikasikan perangkap hama berupa perangkap aroma.
Lokasi Praktikum
Di cileunyi, pada pohon mangga yang belum berbuah.
Kompetensi khusus
Setelah menyelesaikan praktikum, mahasiswa mampu merakit perangkap hama dan pengaplikasian serta menganalisis atau mengamati jenis hama yang dapat masuk ke dalam perangkap tersebut.
II.    Pokok Bahasan
Aroma atau bau tertentu juga dapat menarik perhatian serangga. Mereka tertarik pada aroma yang dikeluarkan lawan jenisnya dengan zat tertentu saat akan melakukan kawin. Dengan mengetahui sifat serangga seperti itu maka telah dikembangkan perangkap aroma dengan menggunakan atraktan. Atraktan merupakan bahan pemikat yaitu suatu bahan kimia yang tergolong pestisida dimana bahan aktifnya bersifat memikat jasad sasaran yang biasanya khusus untuk serangga tertentu. Penggunaan perangkap aroma merupakan perangkap yang paling banyak digunakan petani terutama untuk pengendalian serangga lalat buah baik pada cabai, mangga dan lain-lain. Contohnya adalah Methyl eugenol dan Minyak Melaleuca Brachteata yang juga dapat digunakan sebagai sex feromon untuk menarik perhatian serangga lalat buah pada cabai.
Lalat buah merupakan hama yang sangat merugikan di bidang hortikultura, yang dapat menurunkan produktivitas buah-buahan dan sayuran buah segar di dalam negeri (Kepmentan,2006). Pengendalian yang dilakukan pada umumnya adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya berbahan methyl eugenol.Penggunaan atraktan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dalam tiga cara yaitu : (1) Mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, (2) menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, dan (3) mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul dan cara makan.
Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik (lure), mengandung bahan aktif metil eugenol.
Alat Perangkap lalat buah bisa dibuat dari botol bekas air mineral berukuran satu liter atau 600 ml. Setiap sisinya dilubangi sebagai pintu masuk bagi lalat buah. Pada dasar botol diberi air agar lalat yang terperangkap akan mati. Selanjutnya pada mulut botol dimasukkan kawat. Pada ujung kawat yang berada dalam botol diberi kapas. Terlebih dahulu kapas tersebut ditetesi metil eugenol dan sebaiknya tidak tersentuh air yang berada didasar botol.
III. Bahan Dan Alat
·      Botol plastik bekas 600 ml
·      Cutter
·      Kapas
·      4 ml metil eugenol
·      Air
·      Kawat
·      Benang kasur
Prosedur pelaksanaan praktikum
·      Potong 1/3 bagian atas botol plastik, kemudian masukkan kebotol dengan mulut botol berada dibagian dalam (tutup botolnya dibuka)
·      Pada bagian tengah botol dikaitkan segumpal kapas yang telah ditetesi 4 ml metil eugenol.
·      Bagian depan dan belakang botol diikat dengan kawat agar mudah digantungkan dipohon.
·      Kemudian botol diisi dengan air seperempat bagian botol (jangan sampai mengenai kapar)
·      Perangkap dipasang pada tanaman buah-buahan, perangkap dipasang sedikit miring agar tidak tumpah.
·      Dalam waktu satu minggu amati berapa populasi yang terperangkap pada perangkap aroma ni.
IV. Hasil Pengamatan
Tidak ada hama yang masuk kedalam perangkap
V.    Pembahasan 
            Pada praktikum perangkap hama ini kelompok kami menggunakan perangkap hama berupa perangkap aroma, Penggunaan perangkap aroma dengan menggunakan bahan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. (Kardinan, 2003). Eugenol ini bersifat atraktan yaitu pemikat hama. Eugenol merupakan cairan tak berwarna atau kuning pucat, bila kena cahaya matahari berubah  menjadi coklat kehitaman, dan berbau spesifik. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Terdapat pula  pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut  organik (Nurdjannah 2004). Komponen eugenol dalam jumlah besar (70-80%) yang mempunyai sifat  sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif, antiemetik, antiseptik, dan antispasmodik. Selain rasanya  hangat, juga bersifat antiseptik dan yang paling penting dapat terhindar dari gangguan nyamuk,  meskipun mekanisme yang pasti dari proses ini belum diketahui (Kardinan 2009).
           Atraktan bisa berupa bahan kimia yang dikenal dengan semio chemicals. Semio chemicals dapat mempengaruhi tingkah laku serangga, seperti mencari makanan, peletakkan telur, hubungan seksual dan lainnya. Salah satu dari semio chemicals adalah kairomones. Sejenis kairomones yang dapat merangsang olfactory (alat sensor) serangga adalah metil eugenol, yang merupakan atraktan lalat buah.
           Penggunaan atraktan merupakan cara pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan, karena baik komoditas yang dilindungi maupun lingkungannya tidak terkontaminasi oleh atraktan. Selain itu atraktan ini tidak membunuh serangga bukan sasaran (serangga berguna seperti lebah madu, serangga penyerbuk atau musuh alami hama), karena bersifat spesifik, yaitu hanya memerangkap hama lalat buah, sehingga tidak ada risiko atau dampak negatif dari penggunaannya.
           Hama lalat buah (Bactrocera sp.) merupakan hama utama buah. Inangnya banyak yaitu mangga, jambu air, jambu biji, cabai, papaya, nangka, jeruk, melon, ketimun, tomat, alpukat, pisang dan belimbing. Kerugian yang ditimbulkan dapat secara kuantitatif maupun kualitatif. Kerugian kuantitatif yaitu berkurangnya produksi buah sebagai akibat rontoknya buah yang terserang sewaktu buah masih muda ataupun buah yang rusak serta busuk yang tidak laku dijual. Kualitatif yaitu buah yang cacat berupa bercak, busuk berlubang dan berulat yang akhirnya kurang diminati konsumen. Kerusakan buah dapat mencapai 100% jika tidak dilakukan pengendalian secara tepat. Di Indonesia lalat ini mempunyai inang lebih dari 26 jenis yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan. Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dan dalam sehari mampu meletakkan telur sampai 40 butir. Telur kemudian menetas menjadi ulat dan merusak buah, sepanjang hidupnya seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800 butir.
             Hasil praktikum yang kami lakukan dalam perangkap hama ini tidak ada hama yang terperangkap oleh perangkap aroma ini. Hal ini disebabkan karena banyak faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
1.      Pohon mangga yang kami letakkan perangkap hama aroma ini tidak berbuah sehingga hama lalat buah tidak ada.
2.      Sifat zat yang bersifat volatile atau mudah menguap.
3.      Kemungkinan pada saat pembuatan perangkap ini terjadi kesalahan berupa pemberian metil eugenol yang sangat sedikit jumlahnya. Metil eugenol yang mudah menguap menyebabkan pengurangan aromanya.Sehingga tidak dapat tercium baunya oleh lalat buah tersebut.
4.       Selain itu kemungkinan kapas yang sudah ditetesi perangkap metil eugenol  ini terkena air pada saat pemberian air di  botol plastik yang dijadikan alat perangkap ini. Sehingga lalat buah  tidak ada yang terperangkap.
5.      Adanya hujan yang menyebabkan botol air terisi penuh dengan air hujan, sehingga kapas tenggelam.

VI.             Kesimpulan
Pada praktikum ini kami tidak menemukan hama yang terperangkap. Hal ini diakibatkan karena faktor dari tanamannya yang tidak ada buahnya, sifat dari zatnya yang mudah menguap dan kesalahan kesalahan yang praktikan lakukan pada saat pembuatan perangkap hama aroma ini, seperti kemungkinan kapas yang sudah ditetesi perangkap metil eugenol  ini terkena air pada saat pemberian air di  botol plastik yang dijadikan alat perangkap ini. Sehingga lalat buah tidak ada yang terperangkap karena tidak mencium bau dari aroma tersebut.






Daftar Pustaka
Thamrin m, 2013. Metil Eugenol Sebagai Perangkap Lalat Buah. Balai penelitian pertanian lahan rawa. (online) akses 13 Desember 2013

Anonim. 2010. (online) akses  13 Desember 2013



-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























 
Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

0 komentar:

Post a Comment

 
@2014 | Published By Pro Templates Lab | Tuts | Designed by Templatezy | Powered By Blogger