Macam-macam tafsir berdasarkan sumbernya

Share & Comment
Macam-macam tafsir berdasarkan sumbernya
Berdasarkan sumber penafsirannya, tafsir terbagi kepada dua bagian: Tafsir Bil-Ma’tsur dan Tafsir Bir-Ra’yi. Namun sebagian ulama ada yang menyebutkannya tiga bagian, yaitu :
1)      Tafsir Bilma’tsur adalah tafsir yang menggunakan Alquran dan/atau As-Sunnah sebagai sumber penafsirannya. Contoh:
a.       Tafsir al-quran al-adzim (abu al-fida ismail bin katsir al-qarsyi al-dimasyqi) terkenal dengan sebutan ibnu katsir
b.      Tafsir jami al-bayan fi tafsir al-quran (ibnu jarir Ath-thabary)
c.       Tafsir ma’alim at-tanzil, dikenal dengan sebutan At-tafsir Al-manqul (al-imam al-baghawy)
d.      Tafsir tanwir al-miqyas min tafsir ibn Abbas (Al-fairuzabadi)
Jadi bila dirujuk dari pengertian diatas, ada empat otoritas yang menjadi sumber penafsiran bi al-matsur. Yaitu:
a)      Al-quran yang dipandang sebagai penafsir terbaik terhadap al-quran sendiri. Misalnya penafsiran kata muttaqin pada surat al-imran [33]:1 dengan menggunakan kandungan ayat berikutnya, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah manfkahkan hartanya, baik diwaktu lapang maupun sempit dan seterusnya.
b)      Otoriats hadis yang memang berfungsi sebagai penjelas Al-quran. Misalnya penafsiran nabi terhadap kata Az-zulm pada surat Al-anam [6] dengan pengertian syirik.
c)      Otoritas penjelasan sahabat yang dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui al-quran. Misalnya penafsiran ibnu Abbas terhadap kandungan surat An-nashr dengan kedekatan waktu kewafatan nabi.
d)     Otoritas penjelasan tabi’in yang dianggap orang yang bertemu langsung dengan sahabat. Misalnya penafsiran tabi’in terhadap surat Ash-shaffat [37]:65 dengan Sya’ir ‘imr Al-qays.
Tafsir  bi al-matsur memiliki keistimewaan tertentu dibandingkan dengan corak penafsiran lainnya.  Diantara keistimewaan itu sebagimana dicatat oleh Quraish shihab adalah sebagai berikut :
a)      Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-quran
b)      Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.
c)      Mengikat mufassir dalam bingkai ayat-ayat sehingga membatasinya untuk tidak terjerumus dalam subjektivitas yang berlebihan.
Sementara itu Adz-dzhabi mencatat kelemahan-kelemahannya :
a)      Terjadi pemalsuan dalam tafsir. Pemalsuan itu terjadi pada tahun-yahun ketika terjadi perpecahan umat islam yang menimbulkan berbagai aliran seperti syi’ah, khawarij, dan Murji’ah. Sebabnya adalah fanatisme madzhab, politik dan usaha-usaha umat islam.
b)      Masuknya unsur israiliyyat yang didefiniskan sebagai unsur-unsur yahudi dan nashrani yang masuk kedalam penafsiran Al-quran. Israiliyyat menjadi persoalan serius ketika berada pada masa tabiin. Pada saat itu, israiliyat tidak saja bercampur antara yang shahih dan yang batil, tetapi juga banyak yang dapat merusak akidah umat. Dalam sejarah, israiliyat semacam itu masuk dan tersebar melalui tafsir bi Al-ma’tsur.
c)      Penghilangan sanad
d)     Terjerumusnya sang mufassir kedalam uraian kebahsaan dan kesastraan yang bertele-tele sehingga pesan pokok al-quran menjadi kabur.
e)      Sering konteks turunnya ayat atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami dari uraian hampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun ditengah-tengah masyarakat yang hampa budaya.

2)      Tafsir Bir-Ra’yi adalah Tafsir yang menggunakan rasio/akal sebagai sumber penafsirannya. Contoh:
a.       Mafatih Al-ghaib (fakhr Al-din Al-Razi)
b.      Al-bahr Al-muhith (abu hayyan al-andalusi al-gharnathi)
c.       Al-khasaf `an haqa`iq Al-tanzil wa `uyun Al-aqawil fi wujuh Al-ta`wil (al-zamakhsyari)
Sebab kemunculan tafsir bi al-ra’yi adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam disiplin ilmu. Kemunculan tafsir bi al-ra’yi dipicu pula oleh hasil interaksi umat islam dengan peradaban yunani yang banyak menggunakan akal.
Mengenai keabsahan tafsir bi al-ra’yi, para ulama terbagi kedalam dua kelompok.
a)      Kelompok yang melarangnya. Ulama yang menolak penggunaan “corak” tafsir ini mengemukakan argumentasi sebagai berikut:
o   Menafsirkan Al-quran berdasrkan ra’yi berarti membicarakan firman Alloh tanpa pengetahuan. Dalam firman Alloh surat al-isra ayat 36, yang artinya :
“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
o   Yang berhak menjelaskan Alquran hanyalah Nabi. Firman Alloh surat an-nahl ayat 44, yang artinya :
“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan”,
o   Rasul bersabda “siapa saja menafsirkan al-quran atas dasar pemikirannya semata, atas dasar sesuatu yang belum diketahuinya, maka persiapkanlah mengambil tempat dineraka
o   Sudah merupakan tradisi dikalangan sahabat dan tabiin untuk berhati-hati ketika berbicara tentang penafsiran al-quran.
b)      Kelompok yang mengizinkannya. Mereka mengemukakan argumentasi berikut:
o   Didalam al-quran banyak ditemukan ayat-ayat yang menyerukan untuk mendalami kandunga-kandungan al-quran. Firman alloh surat Muhammad ayat 24, yang artinya :
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”
o   Seandainya tafsir bi ar-ra’yi dilarang, mengapa ijtihad diperbolehkan
o   Para sahabat sudah biasa berselisih pendapat mengenai penafsiran suatu ayat.
o   Rasululloh pernaha berdoa untuk ibnu abbas, berbunyi:
اللهم فقهه في الدين وعلمه التأ ويل
“ya, Alloh berilah pemahaman kepada ibnu abbas dan ajarilah dia takwil”
            Tafsir bi ar-ra’yi dapat diterima selama menghindari hal-hal berikut:
·         Memaksakan diri mengetahui makna yang dikehendaki Alloh pada suatu ayat, sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu.
·         Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui Alloh
·         Menfasirkan ayat dengan disertai hawa nafsu dan sikap istihsan
·         Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung salah satu madzhab yang slah dengan cara menjadikan paham madzhab sebagai dasar, sedangkan penafsirannya mengikuti paham madzhab tersebut
·         Menafsirkan al-quran dengan memastikan bahwa makna yang dikehendaki Alloh adalah demikian.... tanpa didasari dalil dan lain-lain.
3)      Tafsir Bil Isyarah, Penafsiran Alquran dengan firasat atau kemampuan intuitif yang biasanya dimiliki oleh tokoh-tokoh shufi, sehingga tafsir jenis ini sering juga disebut sebagai tafsir shufi.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

 
@2014 | Published By # | Tuts | Designed by # | Powered By restu agro jaya.