Sunday, 7 September 2014

Falsafah penyuluhan dan Komunikasi

Share & Comment
FALSAFAH  PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI  PERTANIAN
Kata falsafah adalah bahasa Arab. Dalam bahasa Yunani adalah philosophia (philo = cinta ; Sophia = hikmah). Falsafah dalam bahasa Greek berarti love of wisdom, cinta akan kebijaksanaan yakni menunjukkan harapan/kemajuan untuk mencari fakta dan nilai kehidupan yang luhur. Plato (filosof Yunani) mengartikan falsafah sebagai ilmu pengatahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Walter Kaufmann, menyebutkan bahwa falsafah adalah pencarian kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi.
Definisi Penyuluhan
Secara harfiah, penyuluhan bersumber dari kata suluh yang berarti obor ataupun alat untuk menerangi kegelapan. Jadi dapat dimaknai bahwa penyuluhan dimaksudkan untuk member penerangan ataupun penjelasan pada mereka yang disuluhi agar tidak berada dalam kegelapan mengenai masalah tertentu.
Penyuluhan adalah kegiatan mendidik orang (kegiatan pendidikan)dengan tujuan mengubah perilaku klien sesuai dengan yang direncanakan/dikehendaki yakni orang makin modern. Ini merupakan usaha mengembangkan (memberdayakan) potensi individu klien agar lebih berdaya secara mandiri.
     Falsafah Penyuluhan
            Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku melalui pendidikan akan memakan waktu yang lebih lama, tetapi perubahan perilaku yang terjadi akan berlangsung lebih kekal. Sebaliknya, meskipun perubahan perilaku melalui pemaksaan dapat lebih cepat dan mudah dilakukan, tetapi perubahan perilaku tersebut akan segera hilang, manakala factor pemaksanya sudah dihentikan.
            Kegiatan penelitian dan penyuluhan sangat berkaitan dan saling memerlukan, karena itu kebersamaan antara peneliti/lembaga penelitian dan penyuluh/lembaga penyuluh perlu terbina dengan baik dan intim. Falsafah keduanya antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Selalu mengusahakan pembaruan dan modernisasi IPTEKS.
2.      Kebutuhan/keinginan/masalah masyarakat klien merupakan kegiatan primadona peneliti dan penyuluh.
3.      Selalu mengikuti/sejalan dengan perkembangan dan kemajuan.
4.      Meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha.
5.      Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran klien dan masyarakat pada umumnya.
6.      Meningkatkan kebersamaan/kerjasama (antara penyuluh dan peneliti dan antara peneliti/penyuluh dengan pengguna IPTEKS/masyarakat klien).
Ensminger (1962) mencatat adanya 11 (sebelas) rumusan tentang falsafah penyuluhan. Di Amerika Serikat juga telah dikembangkan falsafah 3-T : teach, truth, and trust (pendidikan, kebenaran, dan kepercayaan).
         Falsafah penyuluhan menurut Kelsey dan Hearne (1955) adalah bekerja bersama masyarakat untuk membantunya agar mereka dapat meningkatkan harkatnya sebagai manusia (helping people to help themselves). Pemahaman konsep “membantu masyarakat agar dapat membantu dirinya sendiri” harus dipahami secara demokratis, di mana mengandung pengertian:
1.      Penyuluh harus bekerja sama dengan masyarakat, dan bukannya bekerja untuk masyarakat (Adicondro, 1990). Kehadiran penyuluh bukan sebagai penentu atau pemaksa, tapi harus mampu menciptakan suasana dialogis dengan masyarakat dan mampu menumbuhkan, menggerakkan dan memelihara partisipasi masyarakat.
2.      Penyuluh tidak boleh menciptakan ketergantungan, tapi mampu mendorong terciptanya kreativitas dan kemandarian masyarakat agar mampu berswakarsa, swadaya, swadana dan swakelola dalam berkegiatan agar tercapai tujuan, harapan dan keinginan.
3.      Penyuluhan mengacu pada terwujudnya kesejahteraan ekonomi masyarakat dan peningkatan harkatnya sebagai manusia.
Ellerman (2001) mencatat 8 (delapan) peneliti yang menelusuri teori pemberi bantuan, yaitu :
1.      Hubungan Penasehat dan Aparat Birokrasi Pemerintah (Albert Hirschman), melalui proses pembelajaran tentang: ide-ide baru, analisis keadaan dan masalahnya yang diikuti dengan tawaran solusi dan minimalisasi konfrontasi/kete-gangan yang terjadi: antara aparat pemerintah dan masya-rakat, antar sesama aparat, dan antar kelompok-kelompok masyarakat yang merasa dirugikan dan yang menimati ke-untungan dari kebijakan pemerintah.
2.      Hubungan Guru dan Murid (John Dewey), dengan memberikan:
o   kesempatan untuk mengenali pengalamanannya,
o   stimulus untuk berpikir dan menemukan masalahnya sendiri,
o   memberikan kesempatan untuk melakukan “penelitian”
o   tawaran solusi untuk dipelajari
o   kesempatan untuk menguji idenya dengan aplikasi langsung
3.      Hubungan Manajer dan Karyawan (Douglas McGregor), melalui pemberian tanggungjawab sebagai alat kontrol diri (self control).
4.      Hubungan Dokter dan Pasien (Carl Rogers), melalui pemberian saran yang konstruktif dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki dan atau diusahakannya sendiri. Uji-coba kegiatan melalui pemberian dana dan manajemen dari luar, ternyata tidak akan memberikan hasil yang lebih baik.
5.      Hubungan Guru Spiritual dan Murid (Soren Kierkegaard), melalui pemahaman bahwa masalah atau kesalahan hanya dapat diketahui oleh yang mengalaminya (diri sendiri). Guru tidak boleh menonjolkan kelebihannya, tetapi harus merendah diri, siap melayani,dan menyediakan waktu dengan sabar
6.      Hubungan Organisator dan Masyarakat (Saul Alinsky), melalui upaya demokratisasi, menumbuh-kembangkan partisipasi, dan mengembangkan keyakinan (rasa percaya diri) untuk memecahkan masalahnya sendiri.
7.      Hubungan Pendidik dan Masyarakat (Paulo Freire), melalui proses penyadaran dan memberikan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu yang terbaik menurut dirinya sendiri.
8.      Hubungan Agen-pembangunan dan Lembaga Lokal (E.F. Schumacher), melalui program bantuan untuk mencermati apa yang dilakukan seseorang (masyarakat) dan membantu agar mereka dapat melakukan perbaikanperbaikan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
Penyuluhan harus selalu mengacu pada kenyataan yang ada dan dapat ditemui di lapangan atau harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi. Penyuluhan harus melakukan hal-hal terbaik yang dapat dilakukan, bukannya mengajar kondisi terbaik yang sulit direalisir.
v  Falsafah mendidik/pendidikan (bukannya klien “dipaksa-terpaksa terbiasa”)
Ki Hajar Dewantoro (Syarif Tayeb, 1977) menyebutkan bahwa dalam proses pendidikan digunakan falsafah :
Ø  Ing ngarso sung tulodo, mampu memberikan contoh atau teladan bagi masyaraka sasarannya.
Ø  Ing madyo mangun karso, mampu menumbuhkan inisiatif dan mendorong kreatifitas, serta semangat dan motivasi untuk selalu belajar dan mencoba.
Ø  Tut wuri handayani, mau menghargai dan mengikuti keinginan-keinginan serta upaya yang dilakukan masyarakat, sepanjang tidak menyimpang atau meninggalkan acuan yang ada, demi tercapainya tujuan perbaikan kesejahteraan hidup.
v  Falsafah pentingnya individu
Pentingnya individu ditonjolkan dalam pendidikan/penyuluhan pada umumnya, sebab potensi diri pribadi seseorang individu merupakan hal yang tiada taranya untuk berkembang dan dikembangkan.
v  Falsafah Demokrasi
Klien diberi kebebasan untuk berkembang agar mereka dapat mandiri sekaligus dapat bertanggungjawab sesuai dengan perkembangan intelektualnya.
v  Falsafah Bekerjasama
Falsafah Ki Hadjar Dewantoro “hing madya mangun karsa” mengandung makna adanya kerjasama antara penyuluh/agen pembaruan dengan klien. Penyuluh bekerjasama dengan klien agar klien aktif berprakarsa (dalam proses belajar) mengembangkan usaha bagi dirinya.
v  Falsafah “Membantu Klien Membantu Diri Sendiri.”
Thompson Repley Bryant (Vines dan Anderson, 1976 :81 dalam Asngari, 2001), seorang penyuluh kawakan Amerika Serikat, menggaris bawahi falsafah ini dengan mengatakan : Makna falsafah ini menunjukkan landasan orientasi pentingnya individu membantu diri sendiri. Dari falsafah ini pula dikembangkan landasan kegiatan "dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka."

v  Falsafah Kontinyu/berkelanjutan
Dunia berkembang, manusia berkembang, ilmu berkembang, teknologi berkembang, sarana berkembang, usaha berkembang, jadi harus sesuai dengan perkembangan : 1) materi yang disajikan, 2) cara penyajian, dan 3) alat bantu penyajian.
v  Falsafah Membakar Sampah (secara tradisional, baik individual, maupun berkelompok).
Ini analogi ; kemungkinan sampahnya “basah semua” siram dengan minyak tanah (jangan sekali-kali dengan bensin) lalu dibakar (kadang-kadang perlu beberapa kali disiram minyak tanah dan dibakar sampai ada yang kering dan merambat mempengaruhi kekeringan yang lain), ini pendekatan kelompok yang semuanya belum membangun. Bagi seorang individu, falsafah ini pun berlaku, dengan bertahap penuh kesabaran menunggu perkembangan. Falsafah ini memang harus dilandasi adanya kesabaran menunggu perkembangan individu klien. Inilah kunci proses mendidik/menyuluh untuk mengembangkan dan mewujudkan potensi individu lebih berdaya dan mandiri. Individu lebih berdaya sebagai hasil mendinamiskan diri, sehingga individu mampu berprestasi prima secara mandiri
Karena penyuluhan pada dasarnya harus merupakan bagian integral sekaligus sarana pelancar dan penentu kegiatan pembangunan, Slamet (1989) menekankan perlunya :
1.      Perubahan administrasi penyuluhan yang bersifat “regulative sentralis” menjadi “fasilitastif partisipatif”
2.      Pentingnya kemauan penyuluh untuk memahami budaya local yang sering kali  mewarnai “local angricultural practices”.
FUNGSI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN
Fungsi penyuluhan pertanian terutama adalah memfasilitasi dan memotivasi proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha agar tercapai tujuan pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan peningkatan modal sosial, sehingga mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan adanya program Pengembangan Usaha Agribisnis di Perdesaan (PUAP), fungsi penyuluhan pertanian memfasilitasi dalam bimbingan, pendampingan dan advokasi pengelolaan usaha agribisnis di perdesaan, memfasilitasi dan memotivasi penumbuhan dan pengembangan kelompoktani serta gabungan kelompok tani. Untuk melaksanakan fungsi tersebut, maka penyuluh sebagai fasilitator harus menguasai selain falsafah dan prinsip-prinsip penyuluhan pertanian, juga Teknik Komunikasi Persuasif.
Tugas dan fungsi Penyuluh Pertanian secara garis besar adalah melaksanakan fungsi sebagai fasilitator dalam kegiatan penyuluhan pertanian secara rinci dapat dibaca pada Pedoman Pembinaan Penyuluh Pertanian, Per.Men. No. 37/Permentan/OT.140/3/2007. Modul ini memperkenalkan beberapa Teknik Komunikasi Persuasif dalam Penyuluhan Pertanian khususnya dalam melaksanakan tugas dan fungsi Penyuluh Pertanian. Diharapkan setelah mempelajari pokok bahasan ini, peserta Diklat Pembekalan alih jenjang memahami dapat menerapkan teknik komunikasi persuasif dalam penyuluhan pertanian khususnya dalam memfasilitasi pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis di pedesaan.

2.5 BAHAN BACAAN
·      http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdftinjauan/LUHT4211/TINJAUAN.pdf. Diakses pada  tanggal 6 September 2013.

·      http://www.stpp-bogor.ac.id/userfiles/file/Modul%20Komunikasi%20%28WP%29.pdf. Diakses pada  tanggal 7 September 2013.




-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























 
Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

0 komentar:

Post a Comment

 
@2014 | Published By Pro Templates Lab | Tuts | Designed by Templatezy | Powered By Blogger