Dinamika Populasi

Share & Comment
Laporan Praktikum
Dinamika Populasi, Identifikasi Hama dan Musuh Alami
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengendalian Hama Penyakit Terpadu




Oleh :
Muhammad  Kurnia M   1211706052
Nuri Purwanti                   1211706059
Restu Setiawanda             1211706064
Ria Rosdiana M.               1211706065
Ulfah Nurjanah                1211706077


AGROTEKNOLOGI V/B
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013
PRAKTIKUM I
Dinamika Populasi, Identifikasi Hama dan Musuh Alami
I.       PENDAHULUAN
Serangga menjadi hama apabila mereka bertambah banyak sehingga mengakibatkan kerugian bagi manusia. Dinamika populasi adalah studi tentang kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi dalam populasi untuk kurun waktu tertentu. Apabila spesies hama telah berhasil diidentifikasi maka perlu kita mengelompokan hama menurut statusnya. Pengelompokan hama yang sering digunakan adalah membagi hama menurut kisaran bahaya yang diakibatkannya yaitu sebagai berikut :
·         Hama utama merupakan hama yang pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas serangan yang berat sehingga memerlukan usaha pangendalian yang besar.
·         Hama minor merupakan jenis dimana kerusakan yang diakibatkannya masih dapat ditoleransi oleh tanaman.
·         Hama potensial merupakan sebagian besar janis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan.
·          Hama migran adalah hama yang tidak berasal dari agro-ekosistem setempat, tetapi datang dari luar karena sifatnya yang berpindah-pindah.
Populasi setiap organisme pada suatu ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tetapi naik turun yang berkirsar sekitar garis asimot yang sering disebut dengan kedudukan keseimbangan populasi.
Ekosistem alami dan ekosistem pertanian merupakan tempat hidupkomunitas serangga yang terdiri dari banyak jenis serangga, dan masing-masing jenis memperlihatkan sifat populasi tersendiri. Tidak semua jenis serangga dalam agro-ekosistem merupakan serangga yang berbahaya atau merupakan hama, bahkan sebagian besar jenis serangga yang bukan hama dapat berupa musuh alami hama. peran musuh alami adalah sentral dalam pengendalian hayati. Oleh karena itu sangatlah penting diketahui apakah musuh alami yang ada, baik asli maupun eksotik, betul-betul efektif dalam penekanan populasi hama yang ada. Setiap spesies serangga termasuk serangga hama sebagai bagian dari kompleks yang dapat diserang atau menyerang organisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang kemudian disebut musuh alami. Hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami  serangga hama termasuk binatang vertebrata, nematoda, organisme mikro, invertebrata di luar serangga. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah adalah golongan serangga. Dilihat dari fungsinya musuh alami  dapat kita kelompokkan menjadi parasitoid, predator dan patogen.
Parasisoid adalah serangga hama yang hidup diatas atau didalam serangga atau binatang arthropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase predewasanya sedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memangsa binatang lainnya. Patogen atau penyakit berupa virus bakteri, protozoa, jamur dan nematoda yang menyerang serangga sehingga dapat menghambat pertumbuhan serangga dan akhirnya mati.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi dan mengelompokan hama (hama utama,hama minor, hama potensial, dan hama migran), serta dapat menghitung perkembangan populasi hama dan intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh hama tersebut dalam suatu ekosistem tanaman. Selain itu mahasiswa dapat mengenal keanekaragaman musuh alami dalam ekosistem. Sehingga dalam praktikum ini mahasiswa mampu mengelola pengendalian hama terpadu berdasarkan konsep aras ekonomi.
     Manfaat Praktikum
Mahasiswa menambah wawasan mengenai populasi hama utama, hama minor, hama potensial, dan hama migran pada suatu komoditi tertentu serta dapat menghitung populasi hama tersebut.
Lokasi Dan Waktu Pelaksanaan Praktikum
Lokasi praktikum ini yaitu pada lahan tanaman kacang tanah dengan luas 2 m x 2 m, yang berada  di Ds. Babakan kec. Ciparay Kab.Bandung. waktu pelaksanaanya pada tanggal 21 November 2013 sampai 25 November 2013
II.    POKOK BAHASAN
Pengelompokan hama,perhitungan populasi hama dan keruskan yang diakibatkan oleh hama, serta aras keputusan ekonomi pengendalian hama.
Berdasarkan filum hama dikelompokkan dalam empat filum yaitu: 
a.       filum chordata
yaitu kelas mamalia contohnya tikus,bajing,kelinci,gajah,babi,kera.
kelas aves contohnya berbagai jenis burung pemakan biji bijian
b.      filum antropoda
yaitu merupakan kelas insecta contoh serangga kelas aranchnida contoh tungau ( mites)
c.       filum molusca
yaitu kelas  gastropoda contoh:bekicot,siput,keong mas
d.       filum nemathelmintes
yaitu kelas nematoda contoh nemetoda
Pengelompokan hama berdasarkan tulang belakang terbagi menjadi 2 yaitu hewan tak bertulang belakang ( invetebrata) dan bertulang belakang ( vetebrata) hewan invetebrata antara lain adalah : nematoda , serangga, tungau dan siput. sedang kan untuk hewan vetebrata antara laian adalah : satwa liar dan burung.
Berdasarkan tingkat kerugian hama dikelompokkan menjadi :
a. Hama utama adalah hama yang selalu berada pada tanaman yang intensitas serangannya tinggi dan populasi yang tinggi pula sehingga akan menimbulkan kerusakan secara ekonomi pada petani apabila tidak dilakukan pengendalian.
b. Hama sewaktu-waktu adalah hama yang selalu ada tetapi relatif kurang penting karena tingkat kerusakan yang ada masih dapat ditoleransi oleh tanaman namun sewaktu-waktu dapat meningkat dan melampaui ambang ekonomi. 
c. Hama potensial merupakan kelompok besar serangga herbivora yang bersaing mendapatkan makanan dalam kewadaan pengelolaan agroekosistem yang normal. Hama ini tidak pernah mendatangkan kerugian secara ekonomi namun mempunyai potensi untuk menjadi hama.
Hubungan Kisaran Inang Dengan Tanaman Inang
a. Hama monofag adalah hama yang menyerang satu spesies tanaman inang, ex : Scirphopaga innotata 
b. Hama oligofag adalah hama yang memiliki banyak inang tetapi masih dalam satu famili ex: Plutella xylostella pada kubis- kubisan
c. Hama polyphag adalah hama yang memiliki banyak inang dengan berbagai famili tanaman ex: Spodortera litura.
Interaksi Antara Hama dan Tanaman Inang Menurut Kogan (1984):
1. Penemuan habitat serangga dewasa menyebar untuk menentukan habitatnya. Penemuan ini disebabkan oleh faktor lingkungan.
2. Penemuan inang. Pada rangkaian ini serangga menemukan tanaman inang karena adanya rangsangan dikeluarkan oleh tanama seperti bentuk atau warna.
3. Pengenalan Inang. Jika serangga telah menemukan tanaman inang maka rangsangan jarak pendek yang dikeluarkan oleh tanaman inang menyebabkan serangga menetap pada tempat tersebut.
4. Penerimaan inang. Pada rangkaian ini serangga mencoba mencicipi atau meraba tanaman untuk mengetahui kesesuaian sebagai makanan.
5. Kecocokan tanaman inang. Nilai tertentu dan kandungan zat beracun yang terdapat didalam tanaman yang bmenentukan tanaman tersebut cocok sebagai makanan, untuk pertumbuhan dan perkembang biakan secara optimal.
Perhitungan  kecepatan populasi hama dapat dihitung dengan rumus  sebagai berikut:
            ∆N/∆t
Keterangan : ∆N = perubahan jumlah organisme selama 3 kali pengamatan
∆t = perubahan waktu selama 3 kali pengamatan
Kerusakan ekonomik (Stern, 1959)  yaitu Tingkatan kerusakan tanaman akibat serangan opt yg membenarkan adanya pengeluaran biaya untuk tindakan pengendalian buatan (pestisida). Kerusakan ekonomik  dimulai waktu biaya pengendalian  = nilai kehilangan hasil potensial yg bisa diselamatkan oleh pengendalian tersebut. Aras Luka Ekonomik (ALE) yaitu Kepadatan populasi yang terendah yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomik
III. LOKASI PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada lahan tanaman kacang tanah  bertempat di Ds babakan kec.ciparay, kab Bandung.
IV. BAHAN DAN ALAT
·         Jaring penangkap hama
·         Botol film untuk penyimpanan hama dari lapang
·         Kamera
·         Alkohol 70 %
Langkah Kerja
·         Tetapkan wilayah pengamatan, boleh secara sampling ataupun pengamatan secara keseluruhan.
·         Carilah hama yang terdapat pada wilayah tersebut.
·         Identifikasi hama tersebut.
·         Ambilah hama yang didapat dan tempatkan dalam botol film yang telah diisi dengan alkohol 70 %
·         Apabila ditemukan fase telur, larva, pupa, coba temuka imago dari hama tersebut kemudian dianalisis dengan cara
ü  Hitunglah jumlah populasi dan intersitas serangan pada suatu luasan tertentu.
ü  Amati kecepatan perubahab populasi selama 3 kali pengamatan dengan interval waktu 2 hari sekali.
ü   Amati dan gambarlah ( atau ambil fotonya ) jenis-jenis hama dan gejala pada tanaman dengan gambar berwarna baik dari observasi langsung di lapangan atau dari sumber-sumber pustaka.
ü  Hitunglah kecepatan populasi hama dengan rumus sebagai berikut:
∆N/∆t
Keterangan :
∆N = perubahan jumlah organisme selama 3 kali pengamatan
∆t = perubahan waktu selama 3 kali pengamatan
V. HASIL PENGAMATAN
Pengamatan ke
Tanggal
Jenis hama
Jumlah
1
21 November 2013
Belalang
Lalat
Ulat
10
4
1
2
23 november 2013
Belalang
Kumbang daun
Ulat
12
3
2
3
25 november 2013
Belalang
Ulat
Lalat
Kumbang daun
17
2
4
5

No
Nama hama (nama lokal, nama latin)
Gejala/ tanda serangan dan komoditas
Intensitas serangan
Lokasi temuan dan karakteristik lokasi
Jenis hama
Cara pengendalian yang telah dilakukan
ket
1
Belalang  (Locusta migratoria) 
Daun biasanya bagian pertama yang diserang dan termakan hampir
keseluruhan daun termasuk tulang daun jika serangannya parah.

5%
Daun
Hama utama
Penggunaan insektisida alami yang dibuat dari tuba  atau daun nimba. Penanaman serentak.
-
2
Lalat kacang atau lalat bibit
Larva menggorek keping biji yang baru muncul di atas tanah dan daun pertama
>3%
Daun, keping biji
Hama potensial
Penggunaan jerami padi sebagai penutup tanah dapat mengurangi populasi dan tingkat serangan lalat bibit ini. Penanaman serentak   


3
Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
n larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang
secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa bagian atas
epidermis daun, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya
larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim
kemarau.  yang berat dapat mencapai 50%, dikarenakan polong tidak berisi secara baik.
5%
daun
Hama utama
Pembakaran tanaman 
- Pengolahan tanah yang intensif.
- penanaman serentak

4
Kumbang daun
Hama yang memakan daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga.
5%
Daun
Hama utama
penanaman serentak, insektisida 
-


No
Nama musuh alami (namalokal, nama latin)
Sifat musuh alami
Jumlah populasi
Lokasi temuan dan karakteristik lokasi
Inang musuh alami
ket
1.
Laba laba
Laba-laba adalah hewan yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.

2
Daun
-
-

VI.  PEMBAHASAN
Pada ekosistem pertanian di jumpai komunitas serangga yang terdiri dari banyak jenis serangga, dan masing-masing jenis memperlihatkan sifat populasi yang khas. Pada praktikum ini kami menjumpai beebrapa jenis hama pada tanaman kacang tanah dengan luas lahan 2 m x 2 m  yang berlokasi di desa babakan kec. Ciparay  kab. Bandung. Jenis hama nya yaitu belalang, lalat bibit, ulat grayak dan kumbang. Belalang ditemukan pada hari pengamatan pertama dengan jumlah 10, lalat bibit 4 dan ulat grayak 1. Pada pengamatan kedua belalang ditemukan dengan jumlah 12, kumbang 3 dan ulat grayak 2. Sedangkan pada pengamatan ketiga belalang berjumlah 17, ulat 2 , lalat bibit 4 dan kumbang 5.  Berikut adalah identifikasi  Jenis hama yang terdapat pada tanaman kacang tanah tersebut yaitu :
1.      Belalang
Seekor betina mampu  menghasilkan telur  sekitar 270 butir.  Telur ini berwarna keputihputihan dan berbentuk buah pisang, tersusun  rapi dalam tanah sedalam sekitar 10 cm. menetas setelah 10-50 hari. Seekor betina  mampu menghasilkan enam sampai tujuh  kantong telur dalam tanah dengan jumlah 40 butir per kantong  Kelompok  belalang Nimfa mengalami lima kali ganti kulit (lima  instar, Stadiaum nimfa terjadi selama 38 hari. Imago  betina  yang  memiliki  warna  coklat  kekuning-kuningan siap meletakkan telur setelah lima sampai 20  hari setelah dewasa bergantung  temperatur. Imago betina hanya membutuhkan satu kali kawin untuk meletakkan telur-telurnya dalam kantong-kantong.  Sementara  Imago jantan yang memiliki warna  kuning  mengkilap berkembang lebih cepat  dibandingkan dengan betinanya.
Lama hidup dewasa adalah 11 hari. Siklus hidup rata-rata 76 hari sehingga  dalam setahun dapat mengahsilkan  empat sampai lima generasi di daerah tropis utamanya Asia Tenggara, sementara di daerah Subtropis  serangga ini hanya menghasilkan satu generasi per tahun. Dalam kehidupan dan perkembangan koloni belalang kembara dikenal mengalami tiga fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien, dan fase gregaria. Pada fase “soliter”, belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan  tanaman. Pada fase  “gregaria”, belalang kembara hidup  bergerombol dalam kelompokkelompok besar, berpindah-pindah tempat dan menimbulkan kerusakan  tanaman secara besar-besaran  pula. Perubahan fase dari  soliter ke gregaria  dan sebaliknya dari gregaria kembali ke soliter dipengaruhi oleh kondisi iklim, melalui fase yang disebut transien.  Tanaman yang paling disukai belalang adalah kelompok “Graminae” yaitu padi, jagung, sorgum, tebu, alang-alang, kacang tanah, petsai, sawi, kubis daun. Tanaman yang tidak disukai antara lain  kacang hijau,  kedelai, kacang panjang, ubi kayu, tomat, ubi jalar dan kapas.
 Gejala serangan yaitu biasanya Daun bagian pertama yang diserang dan termakan hampir keseluruhan daun termasuk tulang daun jika serangannya parah. Spesies ini dapat pula memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas
Pengendalian  Hayati   Agens hayati  Metharrizium anisopliae var. acridium,  Beauveria  bassiana,  Enthomophaga sp. dan  Nosuma cocustal di beberapa negara terbukti dapat digunakan pada saat populasi belum meningkat. Cara lain  adalah menggunakan insektisida alami yang dibuat dari tuba (Deris sp) yang mengandung bahan aktif rotenon, atau nimba (Azaridacht indica)  yang mengandung bahan aktif azaridachtin. Kedua zat tersebut dapat  mempengaruhi perilaku belalang dengan menghambat nafsu makan dan  menghambat perkembangan serangga. Pembuatan pestisida dilakukan  dengan cara sederhana, yaitu dengan menghancurkan akar tuba atau daun nimba. Satu kilogram akar tuba atau daun nimba yang sudah halus  dimasukkan dalam jirigen 20 liter, kemudian ditambah air bersih. Rendam  selama minimal 3 hari, saring, dan tambahkan bahan perekat  (cytowett/deterjen).
Pengendalian dengan Pola tanam, penanaman serentak, Mengatur pola tanam dengan tanaman alternati yang tidak atau kurang disukai belalang seperti, kedelai, kacang  hijau, ubi kayu, ubi jalar,  kacang panjang, tomat.
Pengendalian dengan Mekanis Melakukan gerakan massal pengendalian mekanis sesuai stadia populasi, dilakukan kegiatan pengumpulan kelompok telur yaitu dengan melakukan pengolahan tanah sedalam 10 cm, kelompok telur diambil dan dimusnahkan, kemudian lahannya segera ditanami kembali dengan  tanaman yang tidak disukai belalang.  Pengendalian nimfa dengan cara memukul, menjaring, membakar. Pengendalian pada saat nimfa adalah kunci penting menghalau nimfa ke suatu tempat yang sudah disiapkan di tempat terbuka untuk kemudian dimatikan.
Musuh-musuh alami belalang  yaitu berupa penyakit parasit dan predator. Penyakit yang menyerang belalang antara lain penyakit bakteri, penyakit cendawan antara lain yaitu, parasit ini dari jenis Nematoda, dan predator dari bangsa burung dan semut. Dalam keadaan populasi belalang tinggi nampaknya peranan musuh alami ini relatif rendah.
2.      Lalat bibit (Atherigona sp) :
Ciri-ciri hama nya yaitu  Imago sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah.  Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mm sampai 4,5 mm. 
Telur mulai diletakkan oleh Imago betina tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Serangan : Serangan terjadi pada tanaman yang baru tumbuh (1-2 minggu setelah tanam). Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Pengendalian Pada daerah endemic yaitu dengan penyemprotan insektisida disarankan pada saat tanaman berumur 7-9 hari setelah berkecambah.
3.      Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)  (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae)
Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif  malam hari.  Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian  datar melekat pada daun (kadang tersusun  2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan,  berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500  butir)  tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas  berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan  hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab).  Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari). 
Gejala Serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang  secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa bagian atas epidermis daun, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. 
Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag,  selain kacang tanah juga  menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang,  kangkung, bayam, padi, , tebu, jeruk, pisang, tembakau, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida.
Pengendalian Kultur teknis yaitu dengan Pembakaran tanaman , Pengolahan tanah yang intensif.  Pengendalian fisik/mekanis  yaitu dengan Mengumpulkan larva atau pupa  dan bagian tanaman yang terserang kemudian    memusnahkannya dapat juga dengan penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40  buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.  Pengendalian hayati  Pemanfaatan musuh alami seperti :   patogen Sl-NPV  (Spodoptera lituraNuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Aspergillus flavus, Beauveria bassina, dan  Metarhizium anisopliae, bakteri  Bacillus thuringensis, nematodaSteinernema sp.,  predator Sycanus sp.,  Andrallus spinideus,  parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis.
4.      Hama Kumbang daun
         Hama yang memakan daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Cara pengendaliannya yaitu dengan penanaman serentak dan penyemprotan insektisida.
          Hama yang telah berhasil diidentifikasi mereka perlu dikelompokkan menurut statusnya. Pengemlompokkan hama yang sering digunakan adalah membagi jenis-jenis hama menurut kisaran bahaya yang diakibatkannya.
Hama utama  merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada suatu tempat, dengaan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas, sehingga memerlukan usaha pengendalian. Tanpa usaha pengendalian, kelompok hama ini akan mendatangkan kerugian ekonomi bagi petani. Biasanya pada suatu agroekosistem, hanya ada satu atau dua hama utama, selebihnya termasuk dalam kategori hama yang lain. Dalam penerapan PHT sasaran yang dituju adalah menurunkan populasi hama utama.
Hama kadangkala atau hama minor (occasional pest) sering juga disebut hama kedua. Kelompok ini merupakan jenis hama yang relatif kurang penting, karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransikan oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekonomik tanaman. Peningkatan populasi ini mungkin disebabkan karena gangguan pada proses pengendali alami, keadaan iklim, atau kesalahan pengelolaan oleh manusia. Kelompok hama ini sering kali peka terhadap perlakuan pengendalian yang ditujukan pada hama utama. Oleh karena itu kelompok hama ini perlu diawasi, agar tidak menimbulkan apa yang disebut ledakan populasi hama kedua.
Hama potensial merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian yang berarti dan tidak membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal. Namun karena kedudukannya dalam rantai makanan,  populasi kelompok ini berpotensi meningkat, dan  menjadi  hama yang membahayakan. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih akibat perubahan cara pengelolaan agroekosistem oleh manusia.
Hama migran merupakan hama yang tidak berasal dari agroekosistem setempat. Kelompok hama ini datang dari luar, dan sifatnya  berpindah-pindah (migran). Banyak serangga belalang, ulat grayak dan bangsa burung memiliki sifat demikian. Kelompok hama migran kalau datang pada suatu tempat, dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan pindah ke daerah lain.
Untuk menghitung kecepatan populasi dapat di hitung dengan rumus
∆N/∆t
dimana :
∆N = perubahan jumlah organisme selama 3 kali pengamatan
∆t = perubahan waktu selama 3 kali pengamata
Untuk belalang
Untuk lalat
Untuk ulat
Dan untuk kumbang daun
            Kecepatan populasi hama belalang ini sangat cepat, dan belalang ini merupakan hama utama karena kerusakannya bisa di bilang parah, belalang memakan daun kacang tanah. Sehingga daun daun yang ada berlubang lubang.  Pada lalat kecepatannya lumayan cepat namun  tidak begitu banyak menimbulkan kerusakan, selain itu  lalat ini tidak ada pada pengamatan  kedua,  sehingga lalat ini termasuk hama potensial. Pada hama ulat kecepatan populasinya hanya sedikit namun kerusakan yang di timbulkan sangat berpengaruh sehingga di kelompokan pada hama utama. Pada kumbang daun kecepatan populasinya lumayan cepat hama ini juga berpengaruh pada kerusakan, sehingga dikelompokan menjadi hama utama kacang tanah.
Musuh alami pada kacang tanah ini ada laba-laba. Laba laba merupakan Laba-laba adalah hewan yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.
Berdasarkan ambang luka ekonomi, jika hama berada pada keseimbangan umum (KU), maka hama dibiarkan. Karena mekanisme alamnya lah yang bekerja yaitu berupa musuh alami. Jika hama naik pada tingkat ambang ekonomi (AE) maka memerlukan pengendalian oleh manusia berupa mekanik, biologis maupun fisik. Jika hama terus meningkat hingga tingkat luka ekonomi(TLE) maka perlu adanya penanganan yang serius berupa insektisida kimia.

VII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa kami dapatkan adalah adanya beberapa jenis hama yang dapat diidentifikasi, diantaranya terdapat jenis hama utama yaitu belalang daun yang kerusakannya dapat memakan daun hingga habis sehingga disebut hama utama, lalu adanya lalat bibit yang melakukan kerusakan pada batang tanaman biji kacang dan daun namun lalat ini hanya menyerang pada kecambah saja, selain itu juga lalat ini tidak ditemukan pada pengamatan kedua sehingga disebut hama potensial. Sehingga tidak berpengaruh nyata pada kerusakannya. Selain itu ada kumbang daun dan ulat grayak yang menimbulkan kerusakan yang berpengaruh juga pada daun kacang tanah sehingga disebut hama utama. Musuh alami yang ada hanya laba-laba yang didapat hanya 2 ekor.












DAFTAR PUSTAKA

AnonimPengendalian Hama Kacang Tanah. (online) akses 10 Desember 2013
J.Rachman Hidayat Sunnendar Kartaatmadja, Sri Astuti Rais. 1999.Teknik Produksi Benih Kacang Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan  Pertanian.Bogor
Sedyowati, Yulia Tri. (online)  Akses 10 Desember 2013
Tenrirawe, A. dan A.H.Talanca. 2008. Bioekologi Dan Pengendalian Hama Dan Penyakit Utama Kacang Tanah. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros (jurnal online)
Untung, Kasumbogo. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (Edisi Kedua). Yogyakarta : Gajah Mada University Press

 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























 


Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

 
@2014 | Published By # | Tuts | Designed by # | Powered By restu agro jaya.