Saturday, 30 August 2014

Perhatian Para Ulama Terhadap Asbabun Nuzul

Share & Comment
Para penyelidik ilmu-ilmu Qur’an menaruh perhatian besar terhadap pengerahuan tentang Asbabun Nuzul. Untuk menafsirkan Qur’an ilmu ini diperlukan sekali. Sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan mengenai bidang itu. Yang terkenal di antaranya ialah Ali bin Madini, guru Bukhari, kemudian al-Wahidi dalam kitabnya Asbabun Nuzul, kemudian al-Ja’bari yang meringkas kitab al-Wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya. Tanpa menambahkan sesuatu. Menyusul Syyaikhul Islam Ibn Hajar. Yang mengarang satu kitab mengenai Asbabun Nuzul satu juz dari naskah kitab ini didapatkan oleh as-Suyuti tetapi dia tidak dapat menemukan seluruhnya. Kemudian as-Suyuti yang mengatakan tentang dirinya: “Dalam hal ini, aku telah mengarang suatu kitab lengkap, singkat dan sangat baik serta dalam bidang ilmu ini belum ada satu kitab pun dapat manyamainya. Kitab itu aku namakan Lababul Manqul fi As-babin Nuzul.  
1.        Urgensi dan Kegunaan Asbabun Nuzul
Konteks kesejarahan yang terukumulasi dalam riwayat-riwayat Asbabun Nuzul merupakan suatu hal yang signifikan untuk memahami pesan-pesan al-Qur’an. Dalam suatu statemennya, Ibn Taimiyah menyatakan Asbabun Nuzul sangat menolong dalam menginterprestasikan Al-Qur’an.
Ungakapan senada dikemukakan oleh Ibn Daqin Al-‘ied dalam pernyataannya “ penjelasan terhadap Asbabun Nuzul merupakan metode yang kondusif untuk menginterprestasikan makna-makna Al-Qur’an”.
Bahkan, Al-Wahidi menytakan ketidak mungkinan untuk menginterprestasikan Al-Qur’an tanpa memperttimbangkan aspek kisah dan Asbabun Nuzul
Urgensi pengetahuan akan Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur’an yang memperlihatkan oleh para ulama salaf ternyata mendapat dukungan dari para ulama . Rahman menegaskan bahwa sebagian besar Al-Quran sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi historis ynag khusus, yang memperoleh solusi, komentar dan tanggapan dari al-Quran. Uraian Fazlur Rahman tersebut secara eksplisit mengisyaratkan Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qu’an.
Dalam Uraian yang lebih rinci, az-Zarqani mengemukakan urgensi Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur’an, sebagai berikut :
1.      Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-Qur’an. Diantaranya dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah [2] ayat 115 dinyatakan bahwa Timur dan Barat merupakan kepunyaan Allah. Dalam kasus shalat, dengan melihat zahir ayat di atas, seseorang boleh menghadap ke arah mana saja sesuai dengan kehendak hatinya. Ia seakan-akan tidak berkewajiban untuk menghadap kiblat ketika shalat. Akan tetapi setelah melihat Asbabun Nuzulnya, tahapan bahwa interprestasi tersebut keliru. Sebab, ayat diatas berkaitan dengan seseorang yang sedang berada dalam perjalanan dan melakukan shalat di atas kendaraan, atau berkaitan dengan orang yang berjihad dalam menentukan arah kiblat.
Contoh kedua, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Marwan menemui kesulitan ketika memahami ayat :

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya : “ janganlah kamu sekali-kali menyangka bahwa orang-orang ynag bergembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka dipuji atas perbuatab yang belum mereka kerjakan, akan terlepas dari siksa. Mereka pun akan mendapat siksaan yang pedih.” (Q.S. Ali Imran : 185)
Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya: “ pergilah, hai Rafi’, kepada Ibn Abbas dan katakan kepadanya: sekiranya setiap orang di antara kita yang bergembira dengan apa yang telah dikerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan yang belum dikerjakannya itu akan disiksa, tentulah kita semua akan disiksa. “ Ibn Abbas menjawab: “Mengapa kamu berpendapat demikian mengenai ayat ini? Ayat ini turun berkenaan dengan Ahli kitab. “ kemudian ia membaca ayat : dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang yang telah diberi kitab… .” kata Ibn Abbas :” Rasulullah menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, mereka menyembunyikannya, laluu mengambil persoalan lain dan itu ynag mereka tunjukan kepadanya. Setelah itu mereka pergi, dan menganggap bahwa mereka telah membertahukan kepada Rasulullah apa yang dinyatakannya kepada mereka. Dengan perbuatan itu mereka ingin dipuji oleh Rasulullah dan merekabergembira degan apa yang telah mereka kerjakan, yaitu menyembunyikan apa yang dinyatakan kepada mereka itu.”   

2.      Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum
Umpamanya dalam surat Al-‘Anam [6] ayat 145 dikatakan:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“ Katakanlah, tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang ingin memakainya, kecuali kalau makanan itu (berupa
) bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor, atau binatang yang disembelih bukan atas nama Allah.” (Q.S. Al-An’am: 145)
Menurut Asy-Syafi’i, pesan ayat ini tidak bersifat umum (hasr). Untuk mengatasi kemungkinan adanya keraguan dalam memahami ayat di atas,Asy-Syafi’i menggunakan alat bantu Asbabun Nuzul. Menurutnya, ayat ini diturunkan sehubungan dengan orang-orang kafir yang tidak mau memakan sesuatu, kecuali apa yang telah mereka halalkan sendiri. Karena mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah merupakan kebiasaan orang kafir, terutama orang yahudi, turunlah ayat di atas.
3.      Mengkhususkan hukum yang terkandung ayat Al-Qur’an , bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus ( As-sabab) dan bukan lafazh yang bersifat umum (umum al-lafzh). Dengan demikian, ayat “zihar” dalam permulaan surat Al-Mujadalah [58], yang turun berkenaan dengan Aus Ibn Samit yang menzihar istrinya (khaulah Binti Hakim Ibn Tsa’labah), hanya berlaku bagi kedua orang tersebut. hukum Zihar yang berkaku bagi selain kedua orang itu, dibentukan dengan jalan analogi (Qiyas).

4.      Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan ayat Al-Qur’an turn umpamanya, Aisyah pernah menjernihkan kekliruan Maran yang menunjukan abd Ar-Rahman Ibn Abu Bakar sebagai orang yang menyebabkan turunnya ayat :

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آَمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
“ Dan orang yang berkata kepada kadua ibu bapaknya: ‘ cis bagi kamu berdua, pakah kamu berdua memperingatkan akau bahwa aku akan dibangkitakan, padahal sungguh telah berlalau beberapa umay sebelumku?’.” (Q.S. Al-Ahqaf [46]:17)  lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata : ‘celakalah kamu, berimanlah! Sesungguhnya  janji Allah adalah benar, lalu berkata ia ‘ ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka,;”
Muawiyah bermaksud mengangkat Yazid menjadi Khalifah, dan ia mengiirm surat kepada Marwan, gubernurnya di madinah. Mengenai hal itu. Karena itu marwan lalu mengumpulkan rakyat kemudian berpidato dan mengajak mereka membaiat Yazid. Tetapi Abdurrahman bin Abu Bakar tidak mau membaiatmya. Maka hampir saja Marwan melakukan hal tidak terpuji kepda Abdurrahman  bin Abu Bakar skiranya ia tidak segera masuk ke rumah Aisyah. Marwan berkata : “orang inilah yang dimaksud ayat: ‘ cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua mamperingatkan aku bahwa aku akan dibangkitkan , padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?’” Aisyah menolak/membantah pendapat Marwan tersebut dan menjelaskan sebab turunnya.
Riwayat Yusuf bin Malik, menyebutkan: “ Marwan berada di Hijaz. Ia telah diangkat menjadi gubernur oleh Muawiyahbin Abu Sufiyan, lalu berpidatolah ia. Dalam pidatonya itu ia menyebutkan nama Yazid bin Muawiyah agar dibaiat sesudah ayahnyya. Ketika itu Abdurrahman  bin Abu Bakar mengatakan sesuatu. Lalu kata marwan: ‘tangkaplah dia.’ Kemudian Abdurrahman masuk ke ruamh Aisyah sehingga mereka tidak menangkapnya . kata Marwan: ‘itulah orang yang menjadi kasusu sehingga Allah menurunkan ayat: (dan orang yang berkata kepada ibu bapaknya: cis bagi kamu berdua).’ Maka kata Aisyah:’ Allah tidak pernah menurunkan sesuatu ayat Qur’an mengenai kasus seseorang di antara kami kecuali ayat yang melepaskan aku dari uduhan berbuat jahat (H.R Bukhari). Dan dalam beberapa riwayat dinyatakan: ‘bahwa ketika marwan meminta agar Yazid dibaiat, ia berkata: ‘(pembaiatan ini adalah) tradisi Abu Bakar dan Umar.’ Abdurrahman berkata: ‘tradisi Hercules dan Kaisar.’ Maka kata Marwan :’inilah orang ynag dikatakan Allah di dalam Al-Qur’an, Dan yang berkata kepada ibu bapaknya : cis bagi kamu berdua… kemudian perkatan Marwan demikian itu sampai kepada Aisyah, maka kata Aisyah :’Marwan telah berdusta. Demi Allah, maksud ayat itu tidaklah demikian. Sekiranya aku mau menyebutkan mengenai siapa ayai itu turun, tentulah aku sudah menyebutkannya.’”
5.      Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu kedalam hati orang yang mendengarnya. Sebab, hubungan sebab-akibat (musabbab), hukum, peristiwa, dan pelaku, masa, dan tempat merupakan sati jalinan yang bisa mengikat hati.
Taufiq Adnan Amal dan syamsul Rizal Panggabean menyatakan bahwa pemahaman terhadap konteks  kesejarahan pra-Qur’an dan pada masa Al-Qur’an menjanjikan beberapa manfaat praktis. Pertama, pemahaman itu memudahkan kita mengidentifikasi gejala-gejala moral dan social pada masyarakat Arab ketika itu, sikap Al-Qur’an terhadapnya, dan cara Al-Qur’an memodifikasi atau mentransformasi gejala itu hingga sejalan dengan pandangan dunia Al-Qur’an; kedua, kesemuannya ini dapat dijadikan pedoman bagi umat islam dalam mengidentifikasi dan menangani problem-problem yang mereka hadapi. Ketiga, pemahaman tentang konteks kesejarahan pra-Qur’an dan pada masaAl-Qur’an dapat menghindarkan kita dari praktik-praktik pemaksaan prakonsep dalam penafsiran.    

 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























 
Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

0 komentar:

Post a Comment

 
@2014 | Published By Pro Templates Lab | Tuts | Designed by Templatezy | Powered By Blogger