Friday, 29 August 2014

Penulisan Al-Quran pada Masa Nabi

Share & Comment
Penulisan Al-Quran pada Masa Nabi
Pada masa nabi, keadatangan wahyu tidak saja di ekspresikan dalam bentuk hafalan tetapi juga dalam bentuk tulisan, nabi memiliki sekretaris pribadi yang khusus bertugas mencatat wahyu. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Afan, Ali bin Abi tholib, Abban bin sa’id, Khalid bin Al-walid, dan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaran kayu, pelepah kurma, tulang belulang, dan batu.
Kegiatan tulis menulis Al-Quran tadi didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim:

لا تكتبوا نى شيئا إلا القرآن ومن كتب عني سوى القرآن فليمحه                                            
“Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dariku, kecuali Al-Qur’an. Barangsiapa telah menulis dariku selain al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya” (HR. Muslim).
Diantara faktor yang mendorong penulisan Al-Quran pada masa nabi adalah:
a) Mem-back up hafalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.
b) Mempresentasikan wahyu dengan cara paling sempurna. Penulisan Al-Quran pada Masa Khulafa Al-Rasyidin
a) Pada masa Abu Bakar As-siddiq
Pada dasarnya, seluruh Al-Quran sudah ditulis pada waktu Nabi masih ada. Hanya saja, pada saat itu surat-surat dan ayat-ayatnya ditulis dengan terpencar-pencar. Dan orang yang pertama kali menyusunnya dalam suatu mushaf adalah Abu Bakar As-Siddiq. Usaha pengumpulan Al-Quran yang dilakukan Abu Bakar terjadi setelah perang yamamah pada tahun 12 H. Karena khawatir kelestarian Al-Quran hilang, Zaid bin Tsabit salah seorang sekretaris Nabi yang muda dan pintar ditugaskan untuk melacak kembali al-Quran. Dalam melaksanakan tugasnya Zaid menetapkan kriteria yang ketat untuk setiap ayat yang dikumpulkannya. Ia tidak menerima ayat yang hanya berdasarkan hafalan, tanpa didukung tulisan. Sikap kehati-hatian Zaid dalam mengumpulkan Al-Quran atas dasar pesan Abu Bakar

أقعدا على باب المسجد، فمن جاء كما بشاهدين على شيء من كتاب الله فاكتباه                                  
“Duduklah kalian di pintu masjid. Siapa yang datang kepada kalian membawa catatan al-Qur’an dengan dua saksi, maka catatlah”.
Riwayat yang berkaitan juga dikeluarkan Ibn Abi Dawud melalui jalan Yahya bin Abdirrahman bin Hatib yang menceritakan bahwa Umar berkata:
من كان تلقى من رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئا من القرآن فليأت به. وكانوا يكتبون ذلك فى الصحف والألواح والعسب. وكان لا يقبل من أحد شيئا حتى                                  يشهد شهيدان
Artinya:
“Siapa saja pernah mendenganr beberapa saja ayat AL-Qur’an dari rasulullah, sampaikalah (kepada zaid). Dan (pada waktu itu) para sahabat telah menulisnya pada subut, papan, dan pelepah kurma. Zaid tidak menerima laporan ayat dari siapa pun sebelum diperkuat dua saksi.
Di dalam menerangkan pengertian “dua saksi” riwayat ini, perlu disimak pendapat Ibn Hajar. Menurut tokoh hadis kenamaan ini, syahidain (dua saksi) di sini tidak harus keduanya dalam bentuk hapalan, atau keduanya daam bentuk tutisan. Sahabat tertentu yang membawa ayat tertentu dapat diterima bila ayat yang disodorkan didukung dua hapalan dan atau tulisan sahabat Iainnya. Demikian juga, suatu hapalan ayat tertentu yang dibawa oleh sahabat tertentu baru bisa diterima bila dikuatkan oleh dua catatan dan atau hapalan sahabat Iainnya.
Pemahaman Ibn Hajar tentang syahidain sedikit berbeda dengan apa yang ditangkap As-Sakhawi (w. 643 H.). Asy-Syakhawi memandang bahwa syahidain artinya catatan sahabat tertentu mengenai ayat tertentu. Ayat tertentu yang disodorkan sahabat dapat diterima jika memiliki dua saksi yang memberikan kesaksman bahwa catatan itu memang ditulis di hadapan Nabi. Pekerjaan yang dibebankan pada pundak Zaid dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu tahun, yaitu pada tahun 13 H.
Setelah Abu Bakar wafat, suhuf-suhuf Al-Quran itu disimpan Khalifah Umar dan ketika Umar wafat, mushaf itu disimpan Hafsa, bukan oleh Utsman bin Afan.

b) Pada masa Utsman bin Afan
Selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan Al-Quran muncul di kalangan tentara-tentara muslim, yang sebagian direktut dari siria dan sebagian lain dari Irak. Perselisihan ini cukup serius sehingga Khudzaifah melaporkannya kepada khalifah Utsman (644-656) dan mendesaknya agar mengambil langkah guna mengakhiri perbedaan tersebut. Khalifah berembuk dengan para sahabat senior Nabi, dan akhirnya menugaskan Zaid bin Tsabit “mengumpulkan” Al-Quran.Bersama Zaid, ikut bergabung tiga anggota yaitu: Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash, dan Abd Ar-Rahman bin Al-Harits.
Satu prinsip yang mereka ikuti dalam menjalankan tugas ini adalah bahwa dalam kasus kesulitan bacaan, dialek Quraisy-suku dari mana Nabi berasal- harus dijadikan pilihan. Dengan demikian, suatu naskah otoritatif (absah) Al-Quran, yang sering juga disebut mushaf ‘Utsmani, telah ditetapkan. Sejumlah salinannya dibuat dan dibagikan ke pusat- pusat utama daerah Islam. Utsman memutuskan agar mushaf-mushaf yang beredar adalah mushaf yang memenuhi persyaratan berikut:
1.      Harus terbukti mutawatir, tidak ditulis berdasarkan riwayat ahad
2.       Mengabaikan ayat yang bacaannya dinasakh dan ayat tersebut tidak diyakini dibaca kembali dihadapan Nabi pada saat-saat terakhir
3.       Kronologi surat dan ayat seperti yang dikenal sekarang ini, berbeda dengan mushaf Abu Bakar yang susunan suratnya berbeda dengan mushaf Utsmani
4.      Sistem penulisan yang digunakan mushaf mampu mencakupi qira’at yang berbeda sesuai dengan lafadz-lafadz Al-Quran ketika turun
5.      Semua yang bukan termasuk Al-Quran dihilangkan
Perbedaan penulisan Al-Quran pada masa Abu Bakar dan pada masa Uesman dapat dilihat dari  berikut ini:

Pada Masa Abu Bakar
Pada Masa Utsman bin ‘Affan
Motivasi penulisannya adalah khawatir sirnanya Al-Quran dengan syahidnya beberapa Al-Quran pada Perang Yamamah.
Motivasi penulisannya karena terjadinya banyak perselisihan di dalam cara membaca Al-Quran (qira’at).
Abu Bakar melakukannya dengan
 mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Quran
 yang terpencar- pencar pada pelepah kurma, tulang, dan sebagainya.
Utsman melakukannya dengan
 menyederhanakan tulisan mushaf pada satu huruf dan tujuh huruf yang dengannya Al- Quran turun.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

0 komentar:

Post a Comment

 
@2014 | Published By Pro Templates Lab | Tuts | Designed by Templatezy | Powered By Blogger