Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at

Share & Comment
Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at
1.      Latar Belakang Historis
Qira’at sebenarnya telah muncul sejak zaman Nabi walaupun pada saat itu qira’at bukan merupakan sebuah disiplin ilmu, ada beberapa riwayat yang dapat mendukung asumsi ini, yaitu :
a.       Suatu ketika Umar bin Khathtab dan Hasyim bin Hakim membaca Ayat Al-Qur’an. Kemudian peristiwa perbedaan membaca ini mereka laporkan ke Rasulullah Saw. Maka beliau menjawab dengan sabdanya, yang artinya :
Memang begitulah Al-Qur’an diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tuju huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang kalian anggap mudah dari tujuh huruf itu,”
b.      Di dalam riwayatnya, Ubai pernah bercerita:
“Saya masuk ke mejid untuk mengerjakan shalat, kemudain datanglah seseorang yang membaca surat An-Nahl, tetapi bacaannya berbeda denagan bacaan saya. Setelah selesai, saya bertanya,”Siapakah yang membacakan ayat itu kepadamu?”ia menjawab”Rasululloh SAW.” Kemudian datanglah seseorang mengerjakan shalat dengan membaca permulaan surat An-Nahl, tetapi bacaannya berbeda dnagan bacaan saya dan bacaan teman tadi. Setelah shalatnya selesai, saya bertanya,”Siapakah yang membacakan ayat itu kepdamu?”. Ia menjawab,”Rasululloh SAW.” Kedua orang itu lalu saya ajak menghadap Nabi. Setelah saya sampaikan masalah ini kepada Nabi, beliau meminta salah satu dari kedua orang itu membackanya lagi surat itu. Setelah bacaannya selesai selesai, Nabi bersabda, Baik. Kemudian, Nabi meminta kepada yang lain untuk melakukan hal yang sama. Dan Nabi pun menjawabnya baik.”
Menurut catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in, yaitu pad awal abad II H, tatkala para qari’ tersebar di berbagai pelosok, telah tersebar di berbagai pelosok. Mereka lebih suka mngemukakan qira’at gurunya daripada mengikuti qira’at imam-imam lainnya. Qira’at-qira’at tersebut diajarkan secara turun-menurun dari guru ke murid, sehingga sampai kepada imam qira’at baik yang tujuh, sepuluh atau yang empat belas.
Timbulnya sebab lain dengan penyebaran qori’-qori’ keberbagai penjuru pada masa Abu Bakar, maka timbullah qira’at yang beragam. Lebih-lebih setelah terjadinya transpormasi bahasa dan akulturasi akibat bersentuhan dengan bangsa-bangsa bukan arab, yang pada akhirnya perbedaan qira’at itu berada pada kondisi itu secara tepat.
Pada masa itu himbauan tokoh-tokoh dan pemimpin ummat untuk bekerja keras sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga bisa membedakan antara bacaan yang benar dan yang tidak benar. Mereka mengumpulkan huruf dan qira'at, mengembangkan wajah-wajah dan dirayah, menjelaskan yang benar dan yang salah serta yang berkembang dan yang punah dengan pedoman-pedoman yang mereka kembangkan dan segi-segi yang mereka utamakan.3
Di antara ulama-ulama yang berjasa meneliti dan membersihkan qira’at dari berbagai penyimpangan adalah :
1.      Abu ‘Amr ‘Utsman bin Sa’id bin Sa’id bin Utsman bin Sa’id Ad-Dani (w. 444H.) dari Danniyah, Andalusia, Spanyol, dalam karyanya yang berjudul At-Taisir.
2.      Abu Al-Abbas Ahmad bin ‘Imarah bin abu Al-Abbas Al-Mahdawi (w.430 H.) dalam karyanya yang berjudul Kitab Al-Hidayah.
3.      Abu Al-Hasan Thahir bin Abi Thayyib  bin Abi Ghalabun Al-Halabi (w. 399 H), seorang pendatang di Mesir, dalam karyany yang berjudul At-tadzkirah.
4.      Abu Muhammad Makki bin Abi Thalib Al-Qairawani (w.437 H ), di Cardova dalam karyanya yang berjudul At-Thabsirah.
5.      Abu Al-Qosim Abdurahhman bin Ismail, terkenal dengan sebutan abu Syamah, dalam karyanya yang berjudul Al-Mursyid Al-Wajid.
Menurut abu Syamah berpendapat bahwa bacaan yang sesuai dengan bahasa Arab walaupun hanya satu segi dan sesuai dengan Mushaf Utsmani. Jika kurang salah satu dari syarat itu qira’at itu lemah (syadz). Setelah itu munculah imam-imam yang menyusun kitab-kitab mengenai qira’at. Salah satunya Ibnu Mujahid yang meringkas menjadi tujuh macam qira’at (qira’at sab’ah)  yang disesuaikan dengan tujuh imam qari.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan sebagian ulaman merasa keberatan dengan inisiatif ibnu Mujahid yakni:
c.       Inisiatif Ibnu Mujahid menginventarisasi qira’at menjadi tujuh memacing kekacauan dengan timbulnya tendensi umat untuk memehami kata sab’ah ahruf dalam hadits nabisebagai qiraat sab’ah itu.
d.      Karena tentang pertumbuhan qira’at bukan tujuh melainkan banyak tersebar disetiap pelosok, sehingga banyak qira’at yang pernah lahir.

e.       Istilah qira’ah sab’ah belum masyhur sampai pada masa Ibn Mujahid sehingga bisa saja mengambil hanya satu sedangkan yang lain ditinggalkan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:

























Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

 
@2014 | Published By # | Tuts | Designed by # | Powered By restu agro jaya.