Thursday, 28 August 2014

Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

Share & Comment
Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
Lafazh-lafazh yang digunakan untuk men-tajrih dan men-ta’dil itu bertingkat. Menurut Ibnu Hatim, Ibnu Shalah, dan Imam An-Nawawy, lafazh-lafazh itu disusun menjadi 4 tingkatan, menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqi menjadi 5, sedangkan  menurut Ibnu Hajar menyusunnya 6 tingkatan yaitu sebagai berikut.
Tingkatan pertama, segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafazh-lafazh yang Af'lu Al-Ta’dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenis
اَوْثَقُ النَّاسِ                       = orang yang paling tsiqat, orang yang paling kuat hapalnnya
اَثْبَتُ النّاسِ حِفْظًا وَعَدَالَةً      = Orang yang paling mantap hapalan da keadilannya
اِلُيْهِ الْمُنْتَهَيْ فِيْ الثّبْتِ           = Orang yang palingf menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya
ثِقّةٌ فَوْقَ ثِقّةٍ                      = Orang yang paling tsiqat melebihi orang tsiqat
Tingkatan kedua , memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukan keadilan dan ke-dhabit-annya, baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna, misalnya:
ثبت ثبت                          = Orang yang teguh (lagi) teguh, yaitu teguh dalam pendiriannya.
ثقة ثقة                            = Orang yang tsiqat (lagi) tsiqah, yaitu orang yang sangat percaya.
حجةحجة                                    = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya.
ثبت ثقة                           = Orang yang teguh (lagi) tsiqah, yaitu teguh dalam pendiriannya.
حافظ حجة                       = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya.
ضبط متقن                       = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan ilmunya.
Tingkatan ketiga, menunjukan keadilan dengan suatu lafazh yang mengandung arti ‘kuat ingatan, misalnya
ثبت                               = Orang yang teguh (hati-hati lidahnya).
متقن                               = Orang yang meyakinkan ilmunya.
حافظ                              = Orang yang hafidz
حجة                              = Orang yang petah lidahnya
Tingkatan keempat, menunjukan keadilan dan ke-dhabit-an, tetapi dengan lafazh yang tidak mengandung arti ‘kuat ingatan dan adil’ ( tsiqah) , misalnya
صدوق                           = Orang yang sangat jujur.
ماءمون                           = Orang yang memegang amanat
لا باس به                                    = Orang yang tidak cacat
Tingkatan kelima, menunjukan kejujuran rawi, tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an, misalnya:
محلة الصدق                     = Orang yang berstatus jujur.
جيدالحديث                       = Orang yang baik hadisnya.
حسن الحديث                    = Orang yang bagus hadisnya.
مقارب الحديث                  = Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadist lain yang tsiqah.
Tingkatan keenam, menunjukan arti ‘ mendekati cacat ‘ seperti sifat-sifat diatas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah” atau lafazh tersebut di-tashir-kan ( pengecilan arti ) atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan, misalnya:
صدوق ان شاءالله              = Orang yang jujur.
فلا ن ارجو بان لا باس به    = Orang yang diharapkan tsiqah.
فلا ن صويلح                    = Orang yang sedikit kesalehannya.
فلا ن مقبول حديثه             = Orang yang diterima hadist-hadistnya.
Para ali menggunakan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang di ta’dilkan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah. Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta’dilkan menurut tingkatan kelima dan keenam hanya dapat berbentuk af’alu yang ditulis, dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadits periwayat lain.
Kemudian tingkatan dan lafazh-lafazh untuk men-tajrihkan rawi-rawi yaitu:
Tingkatan pertama, menunjukan pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk  af’alu al-ta’dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenisnya, misalnya :
اوضع الناس                     = Orang yang paling dusta.
اكذاب الناس                     = Orang yang pendusta.
اليه المنتهي في الوضع         = Orang yang penipu.
 Tingkatan kedua, menunjukan sangat cacat dengan  menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk shigat muballaguh, misalnya
كذاب                              = Orang yang pembohong.
وضاع                            = Orang yang pendusta.
دجال                              = Orang yang penipu.
Tingkatan ketiga, menunjuk pada tuduhan dusta, bohong atau sebagainya, misalnya:
فلا ن منهم بالكذاب             = Orang yang dituduh bohong.
اومتهم بالوضع                  = Orang yang dituduh dusta.
فلا ن فيه النظر                 = Orang yang perlu diteliti.
فلا ن ساقط                      = Orang yang gugur.
فلا ن ذاهب الحديث            = Orang yang hadisnya tewlah hilang.
فلا ن متروك الحديث          = Orang yang ditinggalkan hadisnya.
Tingkatan keempat menunjukan sangat kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalan, misalnya:
مطروح الحديث                 = Orang yang dilempar hadisnya.
فلا ن ضعيف                   = Orang yang lemah.
فلا ن مردود الحديث           = Orang yang ditolak hadisnya.
Tingkatan kelima, menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalannya, misalnya:
فلا ن لا يحتج به                = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadistnya.
فلا ن مجهول                    = Orang yang tidak dikenal hadistnya.
فلا ن منكرالحديث              = Orang yang munkar hadistnya.
فلا ن واه                         = Orang yang kacau hadistnya.
Tingkatan keenam, menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjukan kelemahannya, tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan ‘adil, misalnya:
ضعف حديثه                    = Orang yang di-dhoif-kan hadistnya.
فلا ن مقال فيه                   =Orang yang diperbincangkan.
فلا ن فيه خلف                  = Orang yang disingkiri.
فلا ن لين                         = Orang yang lunak.
فلا ن ليس بالحجة              = Orang yang tidak dapat digunakan hujjah hadistnya.
فلا ن ليس بالقوي               = Orang yang tidak kuat.
            Orang yang di-tajrih menurut tingkatan pertama sampai dengan tingkatan keempat, hadisnya tidak dapat dibuat  Hujjah sama sekali. Adapun orang-orang yang di-tajrihkan menurut tingkatan kelima dan keenam, hadisnya masih dapat dipakai sebagai I’tibar (tempat pembanding).
             Untuk menerima pen-tajrih-an atau pen-ta’dilan, ada yang harus diperhatikan, yaitu apabila kita temui sebagai ahli jarh dan ta’’dil, dalam men-jarh seorang rawi, kita tidak perlu segera menerima pan-tajrihan tersebut tetapi hendaklah menyelidiki terlebih dahulu. Jika pen-tajrih-an itu membawa kegoncangan yang  hebat , kendati yang men-tajrihkan adalh ulama`-ulama yang mansyhur, pen-tajrih-anya tersebut tidak boleh diterima. Sebab, setelah kita adakan penelitian, terkadang sebab-sebab yang digunakannuntuk men-jarh-kannya tidak kuat sehingga kita bias menolak pen-jarh-annya.

            Hal itu disebabkan adannya kemungkinan-kemungkinan antara lain, adalah si-jarh sendiri termasuk orang yang di-tajrih-kan oleh orang lain, sehingga pen-tajrih-annya dan pen-ta’dil-annya tidak harus segera kita terima ,  selama orang-orang lain tidak menyetujuinya. Kemungkinan yang lain bias terjadi bahwa si jarh termasuk orang yang terlalu berlebihan dalam men-tajrih-kan seseorang. Adapun pen-tajrih-an yang dilakukan oleh kebanyakan ahli tajrih dan ta’dil, lebih ringan. Jadi, riwayat yang kemungkinan  bisa diterima adalah bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menilai. Tetapi terlebih dahulu berdasarkan kualitas orang yang menilainya.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Go Green Souvenir
Jual souvenir Pernikahan
Souvenir bertema kan go green, souvenir bibit tanaman dan lain-lain. (Partai besar atau kecil)
Hubungi kami ( untuk mendapatkan katalog ):
089 631 383 425
Pin 7db7f6be
berikut beberapa contoh produknya:













































Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

0 komentar:

Post a Comment

 
@2014 | Published By Pro Templates Lab | Tuts | Designed by Templatezy | Powered By Blogger